Memberi untuk Kebahagiaan

Semangat Natal mulai terasa di seatreo negeri ini. Lampu hias berkelap-kelip di sepanjang perumahan, pertokoan, mall, dan bahkan perkantoran. Di hari yang suci ini, semangat kasih mengasihi sangatlah kental. Semangat kasih Natal tak akan sempurna tanpa bertukar kado maupun berbagi kepada orang yang membutuhkan.

Namun sayangnya, di tengah kasih Natal ini, masih ada beberapa orang yang mengharapkan kado berlebihan. Tak ada salahnya bertukar kado mahal. Namun, hal itu bukanlah esensi perayaan Natal. Kado adalah bukti cinta kasih kita kepada keluarga dan sesama. Nilai materi dari hadiah tersebut tidaklah penting. Ingatlah pepatah bahwa memberi lebih baik dari pada menerima. Lebih baik kita memberikan yang terbaik dari yang kita punya dari pada mengharap mendapat hadiah mahal dari orang lain.

Ada sebuah cerita yang saya dapat dari Chicken Soup for the Soul. Di dalam cerita itu, ada seorang laki-laki bernama Paul yang mendapat sebuah hadiah mobil pada hari Natal. Hadiah tersebut berasal dari kakak laki-laki tersebut. Tentu saja Ia bahagia mendapat kado yang sangat spektakular tersebut. Ia pun mengendarai mobil itu kemanapun ia pergi, salah satunya adalah ke pesta Natal kantor.

Sepulang Ia dari pesta tersebut, Paul bertemu dengan anak jalanan miskin di depan kantornya. Anak jalanan kecil itu mengelilingi mobil itu dengan penuh kekaguman.

Ia lalu bertanya pada laki-laki itu, “Apakah ini mobilmu, Mister?”

Paul pun mengangguk, “Kakakku memberiku mobil ini sebagai hadiah Natal?” lanjutnya.

Anak itu terkejut. “Maksutmu, kakakmu memberinya untukmu dan kau tak perlu membayar sedikitpun untuk mobil ini? Y ampun, andai saja …” anak itu tidak meneruskan perkataannya.

Tentu saja Paul mengerti apa kelanjutan kalimat tersebut. Ia tahu bahwa anak itu menginginkan sebuah mobil sebagai hadiah Natal. Tetapi, apa yang dikatakan oleh anak itu selanjutnya sangatlah mengejutkannya.

“ Ku harap aku bisa menjadi kakak seperti itu.”, lanjutnya.

Paul yang terkejut dengan jawaban itu dengan impulsive mengajaknya keliling naik mobil barunya. Anak itu tentu saja mau. Setelah mengelilingi beberapa blok, anak itu terlihat sangat bahagia. Ia pun bertanya kepada Paul, “ Maukah kau mengantarku pulang kerumah?’

Paul pun mengiyakan sambil di dalam hati berpikir bahwa anak itu pasti ingin pamer kepada para tetangganya. Tapi ternyata Paul salah lagi. Anak itu menyuruhnya berhenti di depan rumahnya dan menunggu. Beberapa waktu kemudian, Paul melihat anak itu berjalan sambil menggendong adiknya yang cacat sambil berkata, “Itu mobil yang aku ceritakan. Paul mendapatkannya dari kakanya sebagai hadiah Natal. Suatu hari aku akan memberimu hadiah seperti itu dan mengajakmu berkeliling jadi kau bisa melihat sendiri indahnya Natal di kota seperti yang selama ini aku ceritakan kepadamu.”

Paul pun lalu mengajak mereka berdua berkeliling dengan mobil barunya sambil berpikir bahwa memberi itu lebih baik dan akan membawa kebahagiaan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.


DMCA.com