Hari Ini Sangat Indah [FLASH_FICTION]

Aku hanyalah anak kecil tak bersayap yang diatas kepalaku ada lingkaran malaikat. Pagi ini aku hendak menyusuri sebuah kota yang indah. Di taman kota suasana masih sepi. Tak ada yang datang kemari sepagi ini. Lagi pula hari ini bukanlah akhir pekan untuk bersantai. Terlalu kontras dengan suasana jalan raya yang dipenuhi lalu lalang kendaraan menandakan bahwa orang-orang sibuk bekerja.

Ada seorang pengemis buta. Lelaki tua dengan baju terkoyak memegang tongkatnya berjalan menyusuri persimpangan jalan yang ramai dikunjungi orang. Lalu ia mulai duduk disana, membuka topinya dan memajang sebuah papan bertuliskan “Saya buta. Tolong kasihani saya!” Dari seberang jalan aku sepanjang hari memperhatikan si pengemis. Memperhatikan orang-orang yang melewatinya. Sampai siang tiba si pengemis mendapatkan uang yang tak seberapa. Lalu aku melangkah mendekati si pengemis dan berkata “Pak, bolehkah aku membalik papan tulisanmu?” Pengemis tua hanya diam sesaat dan sekali menganggukkan kepalanya. Lalu aku menulis kalimat lain dibalik papannya. Dan sejak saat itu, hampir semua orang yang lewat memberi uang kepada si pengemis tua.

Hari menjelang malam dan si pengemis bersiap-siap pulang. Tapi sebelumnya ia bertanya kepada seorang pemuda didekatnya “Nak, boleh bapak tahu kalimat apa yang tertulis dipapan ini?”

Sambil tersenyum si pemuda menjawab “Hari ini sangat indah, hanya saja aku tidak bisa melihatnya.”

Kebodohan Terhebat [FLASH_FICTION]

“Aku bukan seorang pecundang! Aku hanya seorang yang bodoh!”

Begitulah teriak seorang anak kecil dibalik dinding kaca saat aku berdiri dimuka cermin. Tubuhnya yang mungil berselimutkan baju merah terkoyak, tampak berusaha memanjat kursi kayu untuk duduk diatasnya. Duduk manis seperti hendak mendengarkan sebuah cerita. Entah mengapa dan bagaimana terjadi tanpa ku sadari aku juga telah duduk diatas kursi kayu dan aku pun mulai bercerita…

Continue reading ?