Kebodohan Terhebat [FLASH_FICTION]

“Aku bukan seorang pecundang! Aku hanya seorang yang bodoh!”

Begitulah teriak seorang anak kecil dibalik dinding kaca saat aku berdiri dimuka cermin. Tubuhnya yang mungil berselimutkan baju merah terkoyak, tampak berusaha memanjat kursi kayu untuk duduk diatasnya. Duduk manis seperti hendak mendengarkan sebuah cerita. Entah mengapa dan bagaimana terjadi tanpa ku sadari aku juga telah duduk diatas kursi kayu dan aku pun mulai bercerita…

     Ada seorang yang pandai dan seorang yang bodoh mencintai seorang yang cantik. Si pandai dan si cantik telah saling mengenal, sedangkan si bodoh sering memperhatikan si cantik dari kejauhan. Suatu ketika si bodoh memberanikan diri mendekat dan berkata “Hai cantik, lihatlah aku disini. Aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu ada untukmu. Akan aku lakukan apa saja agar kau bahagia.”

     Dengan setangkai mawar, si pandai pun berkata “Hai cantik, kau tahu bahwa aku adalah seorang yang pandai. Jika kau menjadi milikku, ku pastikan kau akan bahagia bersamaku.”

     Lalu si cantik berkata “Aku ingin bahagia bersama si pandai…. dan si bodoh tetaplah disini, jangan pergi dan menghilang tanpa jejak.” Si cantik pun menjadi orang paling bahagia yang tak perlu mengerti apa itu terluka.

     Dari dekat si bodoh terlalu asik menyaksikan indahnya senyuman si cantik. Tanpa terduga sebuah sesak datang hingga ia tak sanggup lagi menyaksikan keindahan itu. Kemudian ia berpaling sesaat dan tiba-tiba saja si cantik menusuknya dari belakang dengan sebilah pisau, lalu pergi dan menghilang tanpa jejak. Dengan terluka si bodoh berjalan mencari si cantik. Namun di tengah jalan ia dihadang oleh amarah yang berusaha menghapus jejak si cantik. Ia bertarung mengalahkan amarah dan mendapatkan jejak untuk menemukan si cantik.

     Si bodoh menemukan si cantik bermain dalam taman bunga bersama si pandai. Tak ingin diketahui luka yang diderita, ia mengenakan topeng yang tersenyum untuk bertemu si cantik. Si cantik berkata “Hey bodoh, akhirnya aku menemukanmu. Jangan pergi dan menghilang tanpa jejak.” Si bodoh hanya terdiam menahan luka hingga malam menjelang dan mereka terlelap.

     Mentari pun tiba dan si bodoh terbangun dari mimpi indahnya. Sebilah pisau menembus kaki kanannya. Si cantik pergi dan menghilang, meninggalkan jejak diatas debu yang lantas tertiup angin. Ia nikmati pedih yang menyenangkan sambil tertatih mencari si cantik. Dipasir pantai hitam ia terkapar. Hampir habis dayanya dipenuhi sesak yang tak ia tahu kemana harus ia bawa lari

     Seribu pagi berlalu hingga akhirnya si bodoh menemukan si cantik kembali. Si cantik tertegun dan berkata “Hey bodoh, mohon jangan kau pergi dan menghilang tanpa jejak!”

     Si bodoh tersenyum lalu berkata “Hey lihat! Aku disini! Semua baik-baik saja. Aku tak akan kemana-mana. Tapi jika kau ingin pergi dan menghilang tanpa jejak, pergilah… Tak akan ku hentikan langkahmu, juga tak akan lagi aku mencari dan menemukanmu kembali. Karna aku akan selalu ada disini. Di tempat ini. Tempat dimana kau bisa menemukanku jika ingin kembali.”

     Seorang bijak di tempat itu tak mengerti dengan apa yang dilakukan si bodoh, ia pun mencoba mengerti dengan bertanya “Hey bodoh, disebut apakah yang kau lakukan itu? Ketulusan atau kebodohan?”

      Si bodoh menjawab “Kelak akan kubuktikan bahwa kebodohan lebih hebat dari pada kepandaian, agar ketulusan bisa merebut kembali mimpi terindah yang telah hilang.”

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.


DMCA.com