Malaikat Kecil Dan Kebodohanku [FLASH_FICTION]

Pernah aku melihat seorang anak kecil bersayap yang duduk di bawah menara gereja tua. Sayapnya terluka. Meringis kesakitan dengan bercak darah menyelimuti lantai gereja yang retak ditelan usia. Meskipun parasnya begitu lucu menggemaskan, namun tetap saja ada keraguan dalam benakku yang dibanjiri dengan banyak tanda tanya.

Makhluk apa itu?

Apakah dia manusia atau bukan?

Apa mungkin dia makhluk asing yang terdampar di bumi?

?…?…?…?…

Keingintahuan dalam kepalaku yang membulatkan tekadku untuk segera menghampirinya. Merasakan kehadiranku, kedua bola matanya segera menatapku.

“Hai teman kecil! Apa yang terjadi denganmu, mengapa sayapmu terluka?”

“Aku terjatuh dari atas menara.”

“Apa kau butuh bantuan? mungkin aku bisa menolongmu.”

“Emm… aku tak yakin kau bisa menolongku. Dirimu sendiri saja tidak bisa kau tolong, bagaimana mungkin kau bisa menolongku?”

Seketika itu aku teringat akan kekecewaanku terhadap orang-orang yang kusayangi. Meskipun aku bahagia bersama dengan mereka, namun aku benci mendengarkan ocehan mereka yang selalu meremehkanku dengan kata-kata yang menusuk dan menghempaskan harga diri.

“Ya, kau benar! Aku memang punya masalah dengan hal bodoh sperti itu”

“Bagaimana bila aku yang lebih dulu menolongmu, mungkin setelah itu kau bisa menolongku.”

“Oke!” sambil tersenyum meremehkan makhluk kecil bersayap yang aneh. “Trus… bagaimana kau akan menolongku?”

Lalu anak itu mulai bergerak. Menghimpun sejumlah kekuatan untuk mencoba bangkit berdiri. Sebuah anak panah dan busur yang disandangnya, diambil dari punggungnya. Lalu diarahkan kepadaku. Membuatku panik akan kesadaran bahwa makhluk kecil ini akan menyerangku. Kemudian ia pun tersenyum manis. Tiba-tiba ia mengedipkan sebelah matanya dan melepaskan anak panahnya tepat di jantungku. Seketika itu aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

Waktu mengantarkan aku kembali pada kesadaran, dan aku mulai terbangun. Namun entah mengapa, tiba-tiba ada kedamaian yang luar biasa bergelorah terasa sangat tajam dan begitu menyengat di jiwa. Rasanya seperti terlahir kembali kedunia yang baru. Dunia dimana ada banyak orang yang bersukacita menyambut kelahiran itu. Dunia dimana ada banyak kegirangan dibalik senyum dan tawa.

Teringat akan orang-orang yang meremehkanku, segera aku menutup mata dan mendoakan mereka. TUHAN! Aku memaafkan mereka, aku tahu mereka sangat mencintaiku.

Anak kecil yang sayapnya terluka terus memperhatikanku. Ia mengawasiku hingga aku selesai mendoakan mereka. Setelah aku membuka mataku, ia tersenyum manis kepadaku. Seketika sayap kecilnya yang terluka pulih. Sayap itu terbentang lebar dan membesar bekilau-kilauan begitu menyilaukan, bulu-bulunya putih bersih berwarna keperakan, bergerak lembut diterpa angin.

“Dah! Sampai jumpa!”

Anak itu terbang dan hilang dalam kerumunan awan yang menari-nari, meninggalkanku sendiri yang menyadari akan keberadaan seorang malaikat kecil yang baru saja kutemui.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anti Spam!! Isi jawaban di bawah * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.


DMCA.com